Tradisi Metik Bunga Wijaya Kusuma: Keterkaitan Sejarah Keraton Surakarta di Cilacap

oleh -160 Dilihat
oleh
Tradisi metik Bunga Wijaya Kusuma ini dilakukan dalam rangkaian kegiatan Adat Paguyuban Kawula Kraton Surakarta Hadiningrat Pakasa Wijaya Kusuma Cilacap pada Minggu (3/5). (Dok. Apri RNews)

CILACAP, Revolusinews.com – Tradisi metik Bunga Wijaya Kusuma di Pulau Majeti Nusakambangan Kabupaten Cilacap menjadi pengingat akan keterkaitan sejarah dengan Keraton Surakarta. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai adat masih dijaga dan dilestarikan hingga kini.

Tradisi metik Bunga Wijaya Kusuma ini dilakukan dalam rangkaian kegiatan Adat Paguyuban Kawula Kraton Surakarta Hadiningrat Pakasa Wijaya Kusuma Cilacap pada Minggu (3/5/2026).

Dalam rangkaian acara, para peserta melakukan kirab dari Pendopo Kabupaten Cilacap menuju Pantai Teluk Penyu kemudian dilanjutkan dengan menyeberang ke Pulau Majeti Nusakambangan yang dipercaya sebagai lokasi tumbuhnya Bunga Wijaya Kusuma.

Bunga Wijaya Kusuma sendiri diyakini memiliki makna sebagai simbol legitimasi dan kelengkapan dalam prosesi tersebut. Tradisi ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah prosesi sakral yang dilaksanakan pada momen-momen tertentu, khususnya menjelang penobatan Raja di lingkungan Keraton Surakarta. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya untuk melestarikan warisan budaya serta nilai-nilai adat yang telah ada sejak lama.

Melihat lebih jauh ke belakang, tradisi metik Bunga Wijaya Kusuma merupakan bagian integral dari sejarah Keraton Surakarta sejak zaman dahulu kala dan juga dianggap sebagai simbol keberkahan dan kesuburan. Bunga ini sering diasosiasikan dengan berbagai ritual dan upacara penting dalam masyarakat Jawa.

Selain itu, keberadaan Bunga Wijaya Kusuma juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam yang seharusnya terus dijaga. Sejak awal mula tradisi ini berlangsung, masyarakat sekitar telah mengenali Bunga Wijaya Kusuma sebagai tanaman yang memiliki khasiat magis dan spiritual.

Dalam konteks sosial budaya masyarakat Jawa, bunga ini dianggap memiliki daya tarik tersendiri serta mengandung filosofi mendalam mengenai kehidupan.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap, Ahmad Fauzi mengatakan, bahwa metik Bunga Wijaya Kusuma memiliki nilai historis yang mendalam dan tidak dapat dipisahkan dari tradisi penobatan raja.

“Tradisi ini tidak dilakukan setiap tahun. Metik Wijaya Kusuma hanya dilaksanakan saat akan ada penobatan Raja Surakarta. Secara historis, terakhir kali prosesi ini dilakukan sekitar tahun 1930,” ujar Ahmad Fauzi.

“Selain prosesi metik, kegiatan juga diisi dengan doa bersama dan wilujengan adat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dan warisan budaya leluhur,” tutupnya.