Turnamen Sepak Bola di Petarukan Dibubarkan Polisi, Panitia Akhirnya Buka Suara

oleh -555 Dilihat
img20250930155226 11zon
Lapangan Desa Serang tampak sepi dengan banner besar yang dibiarkan rubuh di tepi lapangan. Selasa (30/9/2025), kondisi ini terekam saat tim sepak bola bersiap bertanding, memberi kontras antara semangat pemain dan sunyinya suasana. (Dok. Rae Kusnanto)

PEMALANG, Revolusinews.com– Turnamen sepak bola Karang Taruna Cup 2025 di Desa Serang, Pemalang, mendadak heboh. Ajang yang awalnya disebut hanya “main bareng” antarwarga itu tiba-tiba dihentikan aparat kepolisian, Kepala Desa dan Panitia dipanggil pihak Polsek Petarukan pada Selasa (30/9) pagi. Ketua panitia, Fadilah, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp mengaku awalnya tidak berniat membuat acara besar, namun peserta yang mendaftar justru membeludak. Menambahkan itu Baner dari sponsor sampai kapanpun biar dilapangan, kata Fadilah.

Dari rencana kecil-kecilan, turnamen melebar hingga mengundang tim dari Kecamatan Taman dan Ampelgading. Total ada 17 tim yang sudah terdaftar. Pertandingan perdana sempat berjalan lancar, meski tuan rumah Desa Serang kalah. Namun, di hari kedua laga Ampelgading melawan Kabunan memanas karena adu penalti yang berujung gesekan antar pemain.

Pihak Polsek Petarukan kemudian turun tangan. Polisi membenarkan bahwa Kepala Desa Serang dipanggil terkait turnamen ini. Alasannya jelas: tidak ada izin resmi maupun surat tembusan. “Turnamen kami hentikan dulu sampai ada izin resmi. Kalau izin keluar, baru bisa jalan lagi,” tegas Polsek Petarukan.

Kepala Desa Serang, Slamet Widodo, tak menampik hal itu. Ia mengaku sudah dipanggil ke Polsek dan memastikan turnamen benar-benar dibatalkan. “Sudah selesai tadi di Polsek, turnamen dibatalkan,” ujarnya singkat. Slamet juga menegaskan seluruh uang pendaftaran peserta sudah dikembalikan langsung oleh panitia. “Semua dikembalikan door-to-door, karena panitianya dan peserta teman-teman sendiri,” katanya.

Ironisnya, meski disebut hanya ajang persahabatan, panitia ternyata sudah menggandeng sponsor. Publik pun makin curiga: jika benar cuma hiburan warga, mengapa harus dinamai Turnamen dan mencari sponsor? Kecurigaan soal adanya keuntungan yang diincar panitia pun tak terhindarkan—menjadikan kasus ini terus jadi perbincangan hangat warga Pemalang.