Ungkapan Rasa Syukur, Nelayan Desa Ujungmanik Gelar Tradisi Sedekah Laut

oleh -11 Dilihat
oleh
img 20260702 wa0020 11zon

CILACAP, Revolusinews.com – Ratusan nelayan yang tergabung dalam Paguyuban Nelayan Windu Langgeng Desa Ujungmanik menggelar ritual sedekah laut. Seremonial atau tradisi tahunan ini merupakan bentuk syukur atas limpahan berkah hasil laut yang diperoleh para nelayan sekaligus memohon keselamatan dalam menjalankan aktivitas melaut.

Sebelum puncak acara ada beberapa rangkaian prosesi yang harus dilakukan diantaranya kirab budaya. Arak-arakan jolen berupa replika bangunan masjid kecil berisi sesaji di arak. Nantinya jolen tersebut di larung untuk di buang ke tengah laut. Prosesi pelaksanaan kirab budaya dilepas di halaman Pendopo kantor desa.

Hadir dalam kegiatan Kepala Desa Ujungmanik, Segenap perangkat Desa Ujungmanik, Babinsa Koramil 09/Kawunganten, Bhabinkamtibmas polsek Kawunganten, Kanit Intelkam polsek Kawunganten, Ratusan nelayan desa Ujungmanik. Turut hadir tokoh masyarakat sekaligus Sekjen Partai Gerindra Kabupaten Cilacap, Maryo Ahmad, Kamis (2/7/2026).

Dalam sambutannya Kepala Desa Ujungmanik Sugeng Budiyatno menyampaikan, bahwa kegiatan rutin tahunan, nelayan desa Ujungmanik yakni selamatan laut atau sedekah laut.

“Rutinitas, setiap bulan Syuro nelayan desa Ujungmanik mengadakan selamatan laut, atau sering dikenal sedekah laut. Alhmdulilah hari ini prosesi segera dilaksanakan di awali dengan larung sesaji,” ucapnya.

“Mudah-mudahan  dalam pelaksanaan nanti berjalan lancar, dan membawa keberkahan khususnya para nelayan desa Ujungmanik. Harapanya nelayan Ujungmanik, semakin kompak, semakin maju, dan makin lebih baik lagi. Kita nanti bersama-sama akan mengantar jolen untuk di larung ke laut. Alhamdulilah  acara sedekah laut tahun ini tidak berbarengan dengan kegiatan sedekah bumi, sehingga nanti saya bisa mengikuti prosesi, dan ikut mengantar sampai lokasi,” ujar Sugeng Budiyatno.

Jolen yang berisi lengkap berupa sesaji di arak menuju tambatan, untuk selanjutnya jolen diangkut dengan perahu menuju titik dimana jolen tersebut di buang atau di larung. Pada prosesi larung sesaji tampak meriah. Puluhan perahu nelayan mengawal jolen sebagai bagian prosesi ritual yang dianggap paling sakral. Hingga titik yang dituju jolen diturunkan dari perahu untuk kemudian di lepas ke lautan (sungai Cikaret).

Dikonfirmasi, Simbah Sardi selaku sesepuh sekaligus inisiator mengatakan, bahwa perayaan sedekah laut merupakan tradisi yang digelar tiap tahun.

“Sedekah laut adalah tradisi turun-temurun, dan salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan. Sebelum rangkaian prosesi sedekah laut terlebih dulu melakukan ziarah ke makam para leluhur,” katanya.

“Larung sesaji merupakan puncak dari acara. Adapun sesaji yang di larung, berupa kepala kambing, berbagai jenis bunga harum seperti mawar, melati, kenanga, aneka macam jenang (bubur), dilengkapi, nasi uduk, lalapan, lauk pauk, jajanan pasar serta seperangkat pakaian,” ungkap Simbah Sardi.

Makna dari nilai yang terkandung adalah wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Sang Semesta, atas rizqi yang diperoleh dari hasil melaut, pelestarian budaya sebagai simbol keharmonisan antar manusia, alam, dan leluhur sehingga, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk dijaga kelestariannya.

Harapan ke depan nelayan Ujungmanik semakin berkah, nantinya dari hasil tangkapan laut bisa meningkatkan taraf ekonomi semakin baik, sebagai penutup, gelaran acara disuguhkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang akan dimainkan oleh Ki Dalang Aan Husein Al Munawar, dari Desa Ujungmanik melakonkan wayang “Sekar Tunjung Seta”, dengan Karawitan Arsa Laksita,” tutup Simbah Sardi.