PEMALANG, Revolusinews.com – DPD Kawali Pemalang meninjau lokasi banjir di Desa Banjarmulya Kabupaten Pemalang yang menjadi perbincangan hangat di media sosial hingga ramai netizen berspekulasi bencana ini tak lepas dari aktivitas pembangunan pabrik sepatu di kawasan tersebut.
Ketika di lokasi banjir pada Rabu (21/5/2025) sore, Ketua DPD Kawali, Andi Suswanto menyatakan keprihatinannya karena banjir serupa sudah berulang kali terjadi, bahkan kali ini air meluap hingga menutup jalan raya Paduraksa-Banjarmulya.
Kemudian, di Kantor Sekretariat DPD pada Kamis (22/5/2025), Andi menyebut pihaknya sudah sejak lama mengkritisi proyek pembangunan PT Long Well Internasional yang berada di lahan tadah hujan di kawasan itu. Ia bahkan mengaku pernah menemui penanggung jawab proyek untuk meminta kepatuhan terhadap aturan lingkungan.

Ketika dimintai tanggapannya soal banjir, salah satu Kepala Desa disekitar Pabrik turut memberikan keterangan melalui Panggilan WhatsApp Kamis pagi sekitar pukul 08,58 WIB kepada wartawan mengiyakan bahwa lahan yang kini menjadi lokasi pembangunan pabrik dulunya merupakan lahan sawah tadah hujan yang digarap oleh para petani. “Dulu itu memang sawah tadah hujan, hanya bisa ditanami saat musim hujan, dan menjadi tampungan air sebagian besar petani,” ungkapnya.
Menurut Andi, banjir yang kini terjadi lebih parah dan telah menyebabkan antrian panjang kendaraan karena jalan tergenang air. Ia menilai kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL dari pihak pengembang pabrik.
Aripin, Divisi Investigasi Kawali mendesak pemerintah dan instansi terkait agar segera mengambil langkah tegas. Kerusakan lingkungan yang terjadi dinilai sebagai bentuk kelalaian serius dan berpotensi merugikan masyarakat secara luas.
“Kami catat sungai di Banjarmulya dan Kramat kerap meluap sejak pembangunan kawasan industri dimulai. Ini bukti bahwa dampak lingkungan tidak diantisipasi dengan baik,” kata Andi menambahkan.
Lebih jauh, ia mengingatkan potensi bahaya lain seperti kontaminasi air, rusaknya lahan pertanian, hingga meningkatnya risiko penyakit akibat banjir yang tercemar limbah industri. “Ini harus jadi bahan evaluasi serius bagi PT Long Well Internasional,” tutupnya.












