Dua Sisi Kekuasaan: Jalan Pengabdian atau Alat Mengeruk Kekayaan

oleh -100 Dilihat
oleh
img 20260908 wa0021 11zon


Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Kekuasaan pada hakikatnya bukanlah mahkota untuk menikmati keistimewaan, melainkan amanah untuk mengurus kepentingan rakyat. Namun, dalam praktiknya, kekuasaan memiliki dua wajah yang sangat berbeda. Di satu sisi, ia dapat menjadi jalan pengabdian. Di sisi lain, ia dapat berubah menjadi alat untuk mengeruk kekayaan dan memperkuat kepentingan pribadi maupun kelompok.

Bagi seorang pemimpin yang memahami kekuasaan sebagai amanah, jabatan adalah kesempatan untuk menghadirkan keadilan, memperbaiki kehidupan masyarakat, dan meninggalkan warisan kebaikan. Ia menyadari bahwa jabatan memiliki batas waktu, sementara dampak dari kebijakan dapat dirasakan masyarakat selama bertahun-tahun. Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan seberapa besar kekayaan yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikan.

Sebaliknya, ketika kekuasaan dipandang sebagai komoditas, jabatan mudah berubah menjadi instrumen transaksi. Kepentingan publik dapat dikalahkan oleh kepentingan keluarga, kroni, kelompok bisnis, atau jaringan politik. Korupsi, kolusi, nepotisme, konflik kepentingan, dan penyalahgunaan kewenangan kemudian tumbuh sebagai konsekuensi dari kekuasaan yang kehilangan moralitas.

Ironisnya, kekayaan yang diperoleh melalui kekuasaan sering kali memberikan kenikmatan sesaat, tetapi meninggalkan beban sejarah yang panjang. Nama seseorang mungkin dapat dibersihkan melalui pencitraan, tetapi jejak kebijakan dan penderitaan rakyat tidak mudah dihapus.

Karena itu, persoalan utama bukan sekadar siapa yang memegang kekuasaan, tetapi untuk apa kekuasaan digunakan. Kekuasaan yang diletakkan di atas moral, hukum, transparansi, dan tanggung jawab akan menjadi jalan pengabdian. Sebaliknya, kekuasaan tanpa kendali moral akan mudah berubah menjadi mesin akumulasi kekayaan.

Pada akhirnya, kekuasaan adalah ujian. Ia menguji apakah seseorang semakin dekat kepada rakyat atau semakin jauh dari mereka; apakah jabatan membuatnya semakin rendah hati atau semakin rakus. *Sejarah tidak hanya mencatat berapa lama seseorang berkuasa, tetapi terutama untuk apa kekuasaan itu  digunakan.