Dugaan Sengkarut IPAL Dapur MBG, Karyawan Mendadak Jadi Pemilik

oleh -10 Dilihat
img 20260928 wa0043

SERANG,Revolusinews.com – Program pemenuhan gizi yang seharusnya mengedepankan higienitas tinggi justru berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Yayasan Poros Aksi Warga Nyata di Desa Mander, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, Banten, menjadi sorotan tajam akibat pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai janggal dan amburadul, Senin (28/9/2026).

Kejanggalan ini terungkap saat tim media melakukan investigasi langsung ke lokasi guna memverifikasi keluhan warga. Alih-alih menemukan sistem pembuangan yang ramah lingkungan, tim justru mendapati penampungan akhir air limbah yang diduga kuat menyalahi standar operasional yang ditetapkan instansi terkait. Dampaknya pun nyata seperti bau di sekitar area dan kawanan lalat hijau mulai mengerubungi lokasi, mengancam sterilitas dapur program nasional tersebut.

1002658023

Tak hanya itu, tumpukan sampah terlihat dibiarkan bercampur di dalam kolam pembuangan akhir. Kejanggalan semakin kasat mata dengan ditemukannya bekas saringan minyak sayur yang dibuang sembarangan di area belakang dapur SPPG.

Awalnya Pemilik yang Mendadak ‘Turun Kasta’ Menjadi Karyawan.
Ironi terbesar muncul dari sisi akuntabilitas pengelolaan. Sosok bernama Sumintra, yang dalam wawancara dengan salah satu media online sebelumnya secara gamblang mengaku sebagai pemilik dapur MBG tersebut, mendadak “cuci tangan”. Saat dikonfirmasi ulang oleh tim awak media Revolusinews, Sumintra tiba-tiba meralat pernyataannya dan berkilah bahwa dirinya hanyalah seorang karyawan biasa yang bertugas sebagai asisten pengawasan lapangan.

Terkait kacaunya sistem IPAL, Sumintra berdalih bahwa mesin pompa pembuangan telah rusak selama dua hari terakhir sehingga air bekas cucian tidak dapat diolah secara maksimal. Ia juga berdalih bahwa kolam limbah yang kotor itu memang sudah ada sejak awal, dan berkilah belum sempat membersihkan sampah yang bercampur di dalamnya. Lebih menggelikan lagi, ia berkilah bahwa saringan minyak bekas yang dibuang asal-asalan di belakang gedung sengaja ditaruh di sana sebagai alat untuk menutupi lubang biawak.

Mengenai isu bau menyengat yang sebelumnya ia klaim berasal dari transit kotoran hewan (kohe) di Kampung Rukem, Sumintra berkilah bahwa saat pihak Muspika dan Dinas Lingkungan Hidup (LH) turun ke lapangan, bau tersebut diklaim sudah berkurang atau hilang.

1002658021

Sengkarut ini memantik kritik dari Aktivis Akar Rumput “Diduga Tidak Profesional dan Berantakan!”
Sikap plin-plan dan kondisi carut-marut ini memancing reaksi keras dari Uce Bolay, seorang aktivis lokal yang juga warga setempat. Dengan nada pedas, Uce meminta pihak pengelola untuk tidak melempar isu atau mencari kambing hitam di luar lingkungan dapur.

“Kalau kita bicara terkait bau, jangan bicara ke mana-mana dulu (menyalahkan kohe). Faktanya, kalau kita lihat jelas, pengelolaan IPAL di dapur MBG tersebut diduga sangat tidak profesional dan tidak sesuai arahan teknis. Semuanya terlihat berantakan,” cetus Uce kepada media.

Uce menegaskan bahwa kritiknya murni berbasis fakta lapangan yang ia saksikan sendiri, mulai dari air limbah yang bercampur sampah hingga pembuangan saringan minyak goreng bekas yang berserakan.

“Saya tidak memihak ke mana-mana, ini murni berdasarkan fakta temuan. Jangan mudah menjustifikasi faktor luar, sementara di depan mata kita sendiri jelas-jelas ada sumber yang sama-sama bisa menimbulkan bau busuk,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, publik menunggu ketegasan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang dan instansi terkait untuk mengevaluasi total izin operasional serta standarisasi sanitasi di Dapur MBG Desa Mander. Program pemenuhan gizi masyarakat tidak boleh dikotori oleh praktik pengelolaan limbah yang abai terhadap kesehatan lingkungan.

Reporter : Sardi Jalu RNews