Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Hujan turun perlahan ketika Arif berdiri di samping pusara yang masih basah. Tanah merah itu baru saja menelan sosok yang paling ia cintai di dunia: ibunya. Tidak ada lagi suara lembut yang membangunkannya untuk salat Subuh. Tidak ada lagi tangan hangat yang mengusap kepalanya saat hidup terasa berat.
Beberapa bulan sebelumnya, Arif juga kehilangan pekerjaan yang telah bertahun-tahun ia perjuangkan. Seakan belum cukup, penyakit datang menggerogoti tubuhnya. Satu demi satu pintu kebahagiaan tertutup di hadapannya.
Malam-malamnya dipenuhi air mata. Ia sering bertanya dalam sujud yang panjang, “Ya Allah, mengapa begitu banyak yang Engkau ambil dariku?”
Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, ia teringat wajah ibunya yang selalu berkata, “Nak, jangan ukur kasih sayang Allah dari banyaknya nikmat yang diberikan. Ukurlah dari bagaimana Dia tetap menggenggam hatimu saat seluruh dunia melepaskanmu.”
Hari demi hari berlalu. Luka itu tidak hilang, tetapi Arif belajar hidup bersamanya. Ia tetap melangkah meski dadanya sesak. Ia tetap tersenyum meski matanya sering basah. Ia memahami bahwa menerima takdir bukan berarti tidak merasakan sakit. Menerima takdir adalah tetap percaya kepada Allah meskipun hati sedang hancur.
Suatu malam, setelah bertahun-tahun memendam kesedihan, Arif duduk sendirian menatap langit. Ia menyadari bahwa semua kehilangan yang dahulu dianggap sebagai akhir ternyata telah membawanya lebih dekat kepada Tuhannya. Dalam kesendirian, ia menemukan doa. Dalam kesedihan, ia menemukan ketundukan. Dalam kehilangan, ia menemukan makna.
Air mata kembali mengalir, tetapi kali ini bukan karena protes kepada takdir. Air mata itu lahir dari kerinduan dan rasa syukur. Ia berbisik, “Ya Allah, jika semua ini adalah jalan yang Engkau pilih untuk mendekatkanku kepada-Mu, maka aku ridha.”
Takdir memang tidak selalu menghadirkan apa yang kita inginkan. Kadang ia datang membawa kehilangan, perpisahan, dan luka yang sulit dijelaskan. Namun jiwa yang bernaung di bawah takdir-Nya akan menemukan ketegaran yang tidak dimiliki oleh dunia. Sebab ia tahu, tidak ada satu pun air mata yang jatuh sia-sia di hadapan Allah, dan tidak ada satu pun luka yang tidak diketahui oleh-Nya.
Ketika dunia mengambil banyak hal dari kita, Allah sering kali sedang mengajarkan bahwa satu-satunya tempat berlindung yang tidak pernah pergi adalah diri-Nya. Dan di situlah ketegaran sejati lahir, bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena hati tetap yakin bahwa setiap takdir-Nya adalah kebaikan, meski harus dipahami melalui air mata.






