Ketika Allah Mengambil yang Paling Kita Sayangi

oleh -22 Dilihat
oleh
img 20260619 wa0005


Oleh : Dede Farhan Aulawi

Revolusinews.com – Tidak ada luka yang lebih sunyi daripada kehilangan seseorang yang begitu kita cintai. Seseorang yang kehadirannya menjadi bagian dari hidup kita, yang namanya selalu kita sebut dalam doa, yang senyumnya mampu menghapus lelah setelah panjangnya hari.

Awalnya kita mengira mereka akan selalu ada. Kita menunda banyak hal. Menunda mengucapkan terima kasih. Menunda meminta maaf. Menunda memeluk lebih erat. Kita merasa masih punya waktu.

Namun suatu hari, Allah memanggilnya pulang.

Rumah yang dulu ramai mendadak terasa asing. Kursi yang biasa ia duduki tetap berada di tempatnya, tetapi tak lagi terisi. Suara yang dulu sering kita dengar berubah menjadi kenangan yang hanya dapat diputar dalam ingatan. Kita berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan berakhir ketika terbangun.

Tetapi kenyataan tidak berubah.

Kita menangis dalam sujud. Bertanya mengapa harus dia. Mengapa harus sekarang. Mengapa Allah mengambil orang yang begitu kita sayangi. Hati terasa hancur, seolah sebagian dari diri kita ikut dikuburkan bersamanya.

Lalu perlahan kita menyadari sesuatu.

Sesungguhnya dia bukan milik kita. Sejak awal, dia adalah titipan Allah. Kita hanya diberi kesempatan untuk mencintainya dalam rentang waktu yang telah ditentukan-Nya. Ketika masa titipan itu selesai, Allah mengambil kembali apa yang memang menjadi milik-Nya.

Meski demikian, menerima takdir tidak berarti berhenti merindukan. Ada hari-hari ketika air mata kembali jatuh tanpa sebab. Ada saat ketika kita melihat sesuatu yang mengingatkan pada dirinya, lalu dada terasa sesak. Rindu itu tetap hidup, bahkan bertahun-tahun setelah kepergiannya.

Namun di balik luka itu, ada harapan yang menjaga kita tetap berdiri. Bahwa perpisahan ini bukanlah akhir. Bahwa Allah Yang Maha Pengasih tidak menciptakan cinta untuk berakhir sia-sia. Bahwa suatu hari nanti, jika Allah menghendaki, kita akan dipertemukan kembali di tempat yang tidak mengenal kematian, tidak mengenal perpisahan, dan tidak mengenal air mata.

Sampai hari itu tiba, yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakannya dengan tulus, melanjutkan hidup dengan sabar, dan menjaga kenangan indah yang pernah Allah izinkan hadir dalam hidup kita.

Karena terkadang, bentuk cinta yang paling tulus adalah merelakan seseorang kembali kepada Pemiliknya, meski hati kita hancur saat melakukannya.