Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari merupakan fenomena psikologis ketika seseorang merasa bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan, meskipun sebenarnya masih terdapat peluang untuk melakukan perbaikan. Kondisi ini muncul akibat pengalaman berulang menghadapi kegagalan, tekanan, penolakan, atau situasi yang dianggap berada di luar kendali. Pada akhirnya, seseorang mulai meyakini bahwa setiap usaha yang dilakukan tidak akan membawa perubahan berarti.
Konsep learned helplessness pertama kali dikembangkan melalui penelitian psikolog Martin Seligman dan Steven Maier pada akhir 1960-an. Pemikiran ini memberikan pemahaman bahwa pengalaman ketidakberdayaan dapat membentuk pola pikir, perilaku, dan respons emosional seseorang terhadap tantangan kehidupan.
Learned helplessness tidak selalu terjadi karena seseorang memiliki kemampuan yang rendah. Sebaliknya, kondisi ini dapat dialami oleh individu yang memiliki potensi besar, tetapi terlalu lama berada dalam lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi keberhasilan maupun perubahan.
Ketika seseorang berulang kali mengalami kegagalan, ia dapat membangun persepsi bahwa usaha tidak memiliki hubungan dengan hasil. Persepsi tersebut kemudian berkembang menjadi keyakinan negatif, seperti merasa tidak mampu, tidak berguna, atau tidak memiliki masa depan yang lebih baik.
Siklus ketidakberdayaan biasanya terbentuk melalui beberapa tahapan :
– Mengalami tekanan, kegagalan, atau situasi yang sulit dikendalikan.
– Menafsirkan pengalaman tersebut sebagai bukti ketidakmampuan diri.
– Kehilangan motivasi untuk mencoba kembali.
– Menghindari tantangan dan peluang baru.
– Mengalami semakin sedikit kesempatan untuk membuktikan kemampuan diri.
Siklus tersebut dapat menjadi semakin kuat apabila individu tidak memperoleh dukungan sosial, lingkungan yang sehat, atau pengalaman keberhasilan yang dapat membangun kembali kepercayaan dirinya.
Dalam kehidupan modern, learned helplessness dapat muncul dalam berbagai lingkungan.
1. Lingkungan pekerjaan. Seseorang yang terus-menerus menerima kritik tanpa penghargaan, tidak memiliki kesempatan berkembang, atau merasa bahwa keputusan organisasi selalu mengabaikan pendapatnya dapat kehilangan inisiatif. Ia mungkin tetap bekerja, tetapi tidak lagi memiliki semangat untuk berinovasi.
2. Lingkungan Pendidikan. Peserta didik yang sering mengalami kegagalan dan dianggap tidak memiliki kemampuan dapat mengembangkan keyakinan bahwa dirinya tidak akan pernah berhasil. Akibatnya, mereka cenderung menghindari pelajaran atau tantangan yang sebenarnya dapat dikuasai melalui proses belajar.
3. Lingkungan sosial. Ketika seseorang menghadapi diskriminasi, penolakan, atau ketidakadilan secara berulang, ia mungkin merasa bahwa perubahan tidak mungkin terjadi. Perasaan tersebut dapat mendorong sikap pasif dan penarikan diri dari kehidupan sosial.
4. Kehidupan pribadi. Pengalaman hubungan yang tidak sehat, kegagalan dalam mencapai tujuan, atau tekanan kehidupan yang berkepanjangan dapat membuat seseorang kehilangan keyakinan terhadap masa depannya.
Namun, penting dipahami bahwa learned helplessness bukanlah diagnosis klinis yang berdiri sendiri. Kondisi ini juga tidak berarti bahwa semua orang yang mengalami kegagalan atau tekanan akan mengembangkan ketidakberdayaan.
Mengatasi learned helplessness membutuhkan proses membangun kembali keyakinan bahwa tindakan seseorang dapat menghasilkan perubahan. Pertama, melakukan restrukturisasi pola pikir. Individu perlu belajar membedakan antara kegagalan dalam suatu situasi dan penilaian menyeluruh terhadap dirinya. Kegagalan bukanlah identitas, melainkan pengalaman yang dapat memberikan informasi untuk perbaikan.
Kedua, membangun keberhasilan kecil. Menetapkan target sederhana dan realistis dapat membantu seseorang memperoleh pengalaman bahwa usaha memiliki dampak. Keberhasilan kecil yang dilakukan secara konsisten menjadi fondasi bagi pemulihan kepercayaan diri.
Ketiga, mengembangkan pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Kemampuan manusia tidak selalu bersifat tetap. Kompetensi, keterampilan, dan ketahanan mental dapat dikembangkan melalui latihan, evaluasi, serta pengalaman.
Keempat, memperkuat dukungan sosial. Keluarga, sahabat, mentor, dan lingkungan kerja yang suportif memiliki peran penting dalam membantu seseorang melihat peluang yang sebelumnya tidak disadari.
Kelima, mengembangkan kemampuan mengendalikan respons. Tidak semua keadaan dapat dikendalikan, tetapi seseorang masih dapat memilih cara merespons, menentukan prioritas, dan mengambil tindakan yang berada dalam jangkauan kemampuannya.
Apabila ketidakberdayaan disertai kesedihan berkepanjangan, hilangnya minat, gangguan tidur, atau kesulitan menjalankan kehidupan sehari-hari, dukungan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Jadi, Learned helplessness mengajarkan bahwa ketidakberdayaan tidak selalu berasal dari keterbatasan objektif, tetapi dapat terbentuk melalui pengalaman dan keyakinan yang terus berulang. Ketika manusia meyakini bahwa segala usaha tidak akan membawa perubahan, ia berpotensi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan dirinya.
Oleh karena itu, membangun kembali rasa kendali merupakan bagian penting dari penguatan mental. Manusia perlu memahami bahwa tidak semua keadaan dapat diubah, tetapi masih banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas kehidupan.
Pada akhirnya, kebangkitan seseorang tidak selalu dimulai dari perubahan besar. Terkadang, ia dimulai dari keberanian untuk mencoba sekali lagi, setelah sekian lama meyakini bahwa dirinya tidak mampu. Ketidakberdayaan yang dipelajari bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan pola yang dapat dipahami, ditantang, dan secara bertahap diubah menjadi keberanian untuk bertindak.






