Monumen Sejarah Perjuangan Letnan KKO Soetomo di Desa Wanarata

oleh -2098 Dilihat
img 20230903 wa0008

PEMALANG, Revolusinews.com –  Monumen Sejarah Perjuangan Letnan KKO Soetomo Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Agresi Militer Belanda ke-2, 19 Desember 1948 mendapat perlawanan dari pejuang kemerdekaan di seluruh wilayah Republik Indonesia dengan menggunakan tektik gerilya.

20230903 120102

Pada saat itu Pasukan Corps Armada (CA) IV Tegal di bawah Pimpinan Kolonel Darwis Djamin, sedangkan Komandan Corps Mariniers (CM) adalah Mayor KKO Agoes Soebekti. Letnan KKO Ali Sadikin (Letjend KKO Purn) saat itu menjabat Perwira Staf III Operasi sekaligus merangkap sebagai Komandan Sektor A.

Pasukan dengan perwira lain diantaranya letnan Soetomo, Kapten Warih Prabowo, Letnan Waloejo Soegito (Laksamana TNI Purn.), Letnan Moekijat (Letjend KKO Purn.), Asali, Suwandi, Adam alias Copet dan Palal turut serta melakukan perlawanan peperangan gerilya di daerah Pemalang dan sekitarnya.

img 20230903 wa0010

Walaupun dengan kemampuan terbatas, sebagai bentuk perlawanan, pasukan ini beberapa kali dapat merusak fasilitas fasilitas yang digunakan pihak Belanda.

Letnan KKO Soetomo adalah perwira intelijen yang tergabung dalam Grup A yang sangat disegani dan kerap
merepotkan Belanda.

Sebagai pejuang berkarakter keras dan tanpa kompromi terhadap Belanda dan antek-anteknya, para pengkhianat perjuangan.

Beliau merupakan pejuang yang diburu oleh Belanda, yang konon katanya memiliki kesamaan nama dengan tokoh Bung Tomo pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Dikarenakan keahliannya dalam melancarkan serangan-serangan secara terbuka, taktik gerilya dan kemampuan intelijennya, Letnan KKO Soetomo dan para pejuang, berhasil menggagalkan beberapa rencana penyergapan yang dilakukan oleh pihak Belanda pada pos-pos pejuang.

Peristiwa naas terjadi pada tanggal 25 Juni 1949, pukul 04.00 dini hari. Tentara Belanda dengan persenjataan lengkap bergerak menelusuri jalan dari Watukumpul menuju Dukuh Karangpucung melalui Desa Gapura dengan menelusuri jalan setapak di tengah hutan menuju kepancuran Sumur Tatahan.

Hal ini berdasarkan informasi gerilyawan bernama “Bendul” yang tertangkap, dipaksa dan disiksa untuk membuka rahasia tempat markas pejuang gerilyawan.

Tepat pukul 17.00, pada saat para pejuang sedang beristirahat di Pancuran, dengan senyap pasukan Belanda mengintai dan mengepung pejuang yang berada pada areal tersebut.

Tidak bisa dihindari, karena dalam posisi mendadak dan tidak siap, Letnan KKO Soetomo yang sudah terbidik gugur tertembak oleh juru tembak, dalam hitungan detik rentetan peluru juga memberondong para pejuang tanpa perlawanan yang berarti.

Sambil melempar granat di sekitar lokasi, gerilyawan melalui perintah pimipinan Kapten Ali Sadikin melakukan perlawanan dengan cara mundur untuk menyelamatkan diri.

Terjadi baku tembak dan dentuman suara ledakan granat membahana di lokasi pertempuran yang berujung tertangkapnya kapten KKO Warih Prabowo.

Dalam kondisi semakin terdesak dan dengan jumlah pasukan pejuang yang tidak berimbang, kapten KKO Ali Sadikin bersama Letnan Waloejo Soegito melompat dari tebing curam meloloskan diri lalu bersembunyi bersama sisa pasukan lainnya yang selamat.

Pasukan Belanda setelah berhasil melakukan penyergapan, kembali dengan melawan kapten KKO Warih Prabowo dalam keadaan tangan terikat menuju markas besar Belanda di Pemalang.

Ditengah perjalanan tepatnya di jembatan Comal, desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Sang Kapten dengan sigap melepaskan diri dengan melompat terjun ke sungai tersebut.

Pihak Belanda melakukan pengejaran dengan berondongan tembakan, namun berhasil lolos. Untuk mengenang peristiwa tersebut Jembatan Comal diberi nama Jembatan Kapten KKO Warih Prabowo.

No More Posts Available.

No more pages to load.