SUKABUMI. Revolusinews.com — Proyek revitalisasi SD Negeri Tipar di Kp. Pasirnangka, Desa Mekarnangka, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, tak luput dari sorotan. Kali ini, bukan soal kemegahan bangunan yang menjadi perhatian, melainkan material rangka atap baja ringan yang digunakan.
Hasil pengamatan di lapangan mengunakan material baja ringan dengan Merk CBF yang telah terpasang, biasanya relatif tipis dan lentur ketika digerakkan. Secara kasatmata, ketebalannya diperkirakan tidak sampai 0,75 milimeter.
Temuan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mendasar, apakah baja ringan yang terpasang benar-benar identik dengan spesifikasi yang tercantum dalam RKS dan dokumen teknis proyek
Komite Sekolah, Wawan, ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp, menyatakan material tersebut telah memenuhi spesifikasi teknis sudah SNI untuk sertifikat garansinya sampai 20 tahun,” katanya
“Semua juga memakai baja ringan merk CBF untuk software, garansi sama sertifikasi sudah lengkap, dan untuk sertifikat baja ringannya sudah dipegang oleh konsultan pengawas dan untuk di setorkan sekalian membawa contoh ke dinas pendidikan,” imbuhnya.
Namun persoalan belum berhenti pada klaim bahwa material tersebut memiliki sertifikasi. Tetapi ketika diminta menunjukkan sertifikasi yang secara spesifik menjadi dasar penggunaan baja ringan tersebut, dokumen itu tidak dapat ditunjukkan oleh komite dengan alasan berada di tangan konsultan pengawas.
Sertifikat memang disebut ada. Tetapi apakah material yang terpasang di SDN Tipar merupakan material yang sama dengan material yang tercantum dalam dokumen sertifikasi dan memenuhi seluruh spesifikasi dalam RKS
Sebab, sertifikasi sebuah produk tidak otomatis menjawab kesesuaian material apabila belum dipastikan jenis profil, dimensi, ketebalan, mutu dan spesifikasi produk yang diuji sama dengan material yang benar-benar dipasang di lapangan.
Apalagi material tersebut menjadi bagian penting dari konstruksi atap bangunan sekolah. Dalam proyek konstruksi, pernyataan bahwa material sudah sesuai tentu perlu dibuktikan dengan dokumen dan pemeriksaan fisik di lapangan.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena proyek revitalisasi SDN Tipar menggunakan fasilitas yang nantinya diperuntukkan bagi siswa dan tenaga pendidik.
Revitalisasi seharusnya menghadirkan bangunan yang lebih aman dan berkualitas, bukan justru meninggalkan tanda tanya mengenai spesifikasi material yang digunakan.
Masyarakat berhak mengetahui apakah setiap material yang dipasang benar-benar sesuai dengan perencanaan dan standar teknis yang telah ditetapkan.
Jangan sampai proyek yang seharusnya meningkatkan kualitas sarana pendidikan justru menyisakan tanda tanya mengenai mutu material dan berpotensi mempertaruhkan keselamatan para penggunanya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait masih perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai dugaan ketidaksesuaian spesifikasi material baja ringan pada proyek revitalisasi SD Negeri Tipar tersebut.






