Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Ada masa ketika hati begitu mudah tersentuh oleh panggilan Tuhan. Mendengar azan, hati tergerak untuk berwudu. Membaca ayat Al-Qur’an, jiwa terasa teduh. Mendengar nasihat tentang kematian, dosa, dan akhirat, ada rasa takut sekaligus keinginan untuk memperbaiki diri.
Namun, ada pula masa ketika semua itu perlahan menjadi biasa.
Azan terdengar, tetapi kita tetap sibuk.
Ayat Al-Qur’an terbaca, tetapi hati tidak lagi bergetar.
Nasihat datang, tetapi hanya lewat di telinga.
Kematian disebut, tetapi kita merasa masih memiliki banyak waktu.
Yang paling mengkhawatirkan bukanlah ketika kita menangis karena merasa jauh dari Tuhan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kita tidak lagi merasa apa-apa ketika hati semakin jauh dari-Nya.
Hati manusia bisa lelah. Dosa yang berulang dapat membuat kepekaan jiwa semakin tumpul. Kesibukan dunia dapat membuat kita lupa bahwa kehidupan ini hanya sementara. Kita mengejar harta, jabatan, pujian, dan berbagai keinginan, sementara panggilan untuk kembali kepada Allah justru kita abaikan.
Padahal Tuhan tidak pernah berhenti memanggil.
Panggilan itu hadir melalui azan.
Melalui nasihat orang tua.
Melalui sakit yang mengingatkan kita akan kelemahan.
Melalui kehilangan yang menyadarkan bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki.
Bahkan melalui kegelisahan di dalam dada, yang mungkin menjadi tanda bahwa jiwa sedang merindukan jalan pulang.
Mungkin bukan Tuhan yang menjauh dari kita. Kitalah yang terlalu jauh melangkah mengejar dunia.
Karena itu, jangan menunggu hati menjadi lembut dengan sendirinya. Datanglah kepada Allah meskipun hati belum sepenuhnya khusyuk. Bersujudlah meskipun air mata belum mengalir. Bukalah Al-Qur’an meskipun belum langsung merasakan ketenangan. Berdoalah meskipun kata-kata terasa kering.
Sebab terkadang, kita harus mengetuk pintu Tuhan terlebih dahulu sebelum hati kembali menemukan rasa.
Jangan sampai suatu hari panggilan Tuhan benar-benar datang dalam bentuk yang tidak bisa kita tunda lagi: panggilan menuju kematian.
Ketika itu tiba, tidak ada lagi waktu untuk mengatakan, “Nanti aku akan berubah.”
Tidak ada lagi kesempatan untuk berkata, “Besok aku akan lebih dekat kepada-Mu.”
Maka selagi masih diberi napas, pulanglah.
Jika hari ini hatimu belum tergerak, mintalah kepada Allah agar Dia menggerakkannya. Jika ibadahmu terasa berat, mintalah kekuatan. Jika dosamu terasa terlalu banyak, jangan berputus asa dari rahmat-Nya.
Selama napas masih ada, pintu kembali belum tertutup.
Barangkali panggilan Tuhan yang selama ini kita abaikan bukanlah tanda bahwa Dia meninggalkan kita. Bisa jadi, justru itulah bentuk kasih-Nya. Dia terus memanggil, menunggu kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, lalu menundukkan kepala dan berkata :
“Ya Allah, aku kembali. Ampunilah aku, dan jangan biarkan hatiku jauh lagi dari-Mu.”






