Satu Dekade Terbelah, Dua Kepemimpinan Dewan Adat Papua Akhirnya Rekonsiliasi

oleh -11 Dilihat
oleh
img 20260802 wa0016 11zon

BIAK NUMFOR, Revolusinews.com — Setelah kurang lebih satu dekade kelembagaan Dewan Adat Papua (DAP) berjalan di bawah dua garis kepemimpinan yang berbeda. Momen bersejarah pemulihan dan persatuan akhirnya terwujud. Bertempat di halaman kediaman Ketua Umum Dewan Adat Papua, Mananwir Beba Yan Pieter Yarangga, masyarakat adat Papua menggelar rangkaian Ritual Adat Byak sebagai wujud persaudaraan dan perdamaian pada Minggu, 02/2/2026.

Momen ini mempertemukan dua tokoh penting masyarakat adat Papua, yaitu Mananwir Beba Yan Pieter Yarangga dan Tuan Dominikus Sorabut, yang hadir bersama untuk saling menghormati dan memulihkan hubungan melalui adat yang diwariskan oleh para leluhur.

Acara diawali dengan pembacaan prolog yang dibacakan secara khidmat oleh Yohanes Ronsumbre. Dalam prolog tersebut, disampaikan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta penghormatan tinggi kepada para leluhur masyarakat adat Papua yang bersemayam di gunung, bukit, lembah, rawa, sungai, hingga pulau-pulau, khususnya para leluhur suku Byak di Biak, Supiori, Numfor, dan Kepulauan Aimando Padaido.

Dalam prolognya, Yohanes Ronsumbre menegaskan bahwa prosesi ini bukanlah tentang mencari siapa yang menang atau siapa yang salah.

“Momentum Rekonsiliasi yang berlangsung dalam mekanisme adat Papua suku Byak hari ini bukanlah tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah, bukan juga tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, bukan pula untuk menghakimi masa lalu, melainkan menjadi momentum memulihkan hubungan persaudaraan, mempererat persatuan, mengakhiri sekat-sekat perbedaan serta meneguhkan kembali komitmen bersama dalam menjaga martabat, kehormatan, dan kewibawaan kelembagaan Dewan Adat Papua sebagai rumah besar seluruh masyarakat adat bangsa Papua,”* ujar Yohanes Ronsumbre saat membacakan prolog.

Isi Hati Tuan Dominikus Sorabut: “Saya Datang Bawa Diri yang Kosong”
Suasana berubah penuh haru ketika Tuan Dominikus Sorabut menyampaikan ungkapan isi hatinya di hadapan pimpinan adat dan masyarakat Papua yang hadir. Dengan terharu, ia menyampaikan kerendahan hatinya sebagai anak bangsa Papua yang kembali ke rumah orang tua:

“Kita seorang manusia biasa, sebagai alat, datang di atas tanah ini, di atas para leluhur, tidak punya maksud yang lain. Saya bawa tubuh yang kosong, diri yang kosong, untuk kita sama-sama bangun, sama-sama maju, untuk menegakkan otoritas, hak-hak dasar, dan selamatkan yang tersisa ini.

Mananwir, ketua saya, saya punya guru, saya punya tokoh, Mulai hari ini, semua jabatan lain, saya dan teman-teman, kita berhenti sampai di sini, dan kembali serahkan ini kepada rakyat bangsa Papua. Biarkan rakyat yang menentukan pemimpin bangsa ini.

Saya minta maaf. Saya mungkin kurang sehat, tapi juga saya punya tubuh yang sakit. Jadi saya coba untuk selamatkan diri saya ketika saya keluar dari rumah, karena tubuh saya sakit. Jadi saya coba untuk keluar, selamatkan diri saya. Tapi, saya masih berburu. Pada waktunya saya akan datang, bawa hasil perubahan.

Tapi ketika hari ini pelajaran penting. Orang tua undang saya untuk datang di rumah. Sebagai anak, datang di rumah. Saya sebagai anak Papua. Saya bukan dari Lapago, tapi saya sebagai anak Papua. Dan datang kepada orang tua. Apa yang saya sampaikan ini, sebagai pernyataan pribadi saya, dengan teman-teman saya, kita sama-sama bagaimana menahkodai perahu bangsa ini, orang-orang yang tersisa.

Tanah Biak sebagai cahaya kecil yang menerangi di atas tanah besar ini. Sehingga, kita tidak boleh menguburkan cahaya itu. Nanti cahaya itu sampai di bukit, di atas, di gunung… Nanti saya akan jemput cahaya itu.”

Dua Tahapan Ritual Sakral Suku Byak
Rangkaian prosesi adat pemulihan ini dilaksanakan melalui dua tahapan utama tradisi suku Byak:
1. Wbe Asuser / Mansorandak (Ritual Penyambutan dan Penerimaan Adat)
   Prosesi awal berupa ritual penyambutan adat kepada tamu yang hadir di lingkungan keluarga besar adat. Ritual ini mengandung makna pengakuan, penghormatan, dan pemberkatan—bahwa setiap tamu diterima dengan hati tulus, diperlakukan sebagai saudara, serta berada dalam perlindungan adat Byak.
2. Wbe Asuser / Payasyos (Ritual Rekonsiliasi Adat)
   Prosesi ini menjadi lambang pemulihan hubungan, penyelesaian perselisihan, serta pengembalian keseimbangan hidup bersama. Dalam falsafah adat Byak, Asuser tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa yang benar atau salah, melainkan menjadi jalan adat untuk memulihkan hati, menghapus luka, memperbarui ikatan persaudaraan, serta menguatkan tekad melangkah ke depan.

Meneguhkan Kembali Rumah Besar DAP
Melalui prosesi ini, diteguhkan kembali bahwa Dewan Adat Papua merupakan Rumah Besar Bersama bagi seluruh masyarakat adat Papua. Dinamika dan perbedaan pandangan yang pernah terjadi di masa lalu hendaknya dijadikan pelajaran berharga untuk membangun kelembagaan adat yang semakin kuat, bermartabat, inklusif, dan mampu melindungi hak serta jati diri masyarakat adat Papua.

Pesan Penutup Rekonsiliasi:
“Adat mempersatukan, leluhur merestui, Tuhan memberkati. Dari rekonsiliasi lahirlah persaudaraan; dari persaudaraan lahirlah kekuatan untuk menjaga Tanah Papua dan seluruh masyarakat adat Papua.”