Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Hujan turun sejak pagi. Langit kelabu seolah menyembunyikan matahari yang enggan muncul.
Di sebuah rumah mewah, Raka, bocah berusia sembilan tahun, duduk meringkuk di sudut tempat tidurnya. Tubuhnya menggigil, wajahnya pucat, dan dahinya terasa seperti terbakar.
“Bu…” bisiknya pelan.
Tak ada jawaban.
Ibunya sudah berangkat sejak subuh untuk menghadiri rapat penting di luar kota.
“Ayah…”
Tak ada yang menyahut.
Ayahnya bahkan belum pulang sejak dua hari lalu karena mengejar proyek besar yang katanya akan mengubah masa depan keluarga.
Di rumah yang luas itu hanya ada seorang pembantu yang sibuk mengurus pekerjaan rumah. Ia mengira Raka hanya masuk angin biasa.
Hari demi hari berlalu.
Demam Raka semakin tinggi.
Ia mulai sulit berdiri. Nafasnya semakin pendek. Namun setiap kali ponsel orang tuanya dihubungi, jawabannya selalu sama.
“Nanti ya… Ayah sedang meeting.”
“Ibu sedang presentasi. Sabar dulu.”
Raka tidak pernah marah.
Ia hanya tersenyum kecil sambil memeluk boneka hadiah ulang tahun dari ayahnya lima tahun yang lalu.
Malam itu hujan turun sangat deras.
Listrik sempat padam.
Di bawah cahaya lilin, Raka mengambil selembar kertas bergambar kartun dan sebuah pensil pendek yang hampir habis.
Dengan tangan yang gemetar ia menulis.
Untuk Ayah dan Ibu…
Kalau nanti Ayah dan Ibu pulang, jangan marah ya kalau Raka tidur.
Raka capek sekali.
Sebenarnya Raka ingin bilang dari kemarin kalau kepala Raka sakit sekali. Badan Raka dingin, lalu panas lagi.
Tapi setiap telepon, Ayah bilang nanti.
Ibu juga bilang nanti.
Tidak apa-apa kok…
Raka tahu Ayah dan Ibu bekerja supaya Raka bisa sekolah di tempat yang bagus.
Raka cuma kangen dipeluk.
Kalau besok Raka sudah sembuh, kita makan bakso bersama ya?
Kalau ternyata Raka tidak bangun lagi…
Tolong jangan sedih terlalu lama.
Raka sayang Ayah dan Ibu.
Terima kasih sudah bekerja keras.
Maaf kalau selama ini Raka sering merepotkan.
Raka cuma ingin satu kali lagi dipanggil…
“Nak…”
Kertas itu terjatuh dari genggamannya.
Mata kecil itu perlahan tertutup.
Napasnya semakin pelan…
Semakin pelan…
Hingga akhirnya berhenti.
…
Keesokan paginya, ayah dan ibunya pulang hampir bersamaan.
Mereka membawa banyak hadiah.
Robot yang selama ini diinginkan Raka.
Sepatu baru.
Dan sebuah kue kecil karena mereka sadar sudah melewatkan ulang tahun anaknya beberapa hari sebelumnya.
“Raka… lihat, Ayah beli hadiah!”
Sunyi.
“Sayang… Ibu pulang.”
Tak ada jawaban.
Mereka membuka pintu kamar.
Raka terbaring tenang.
Seolah hanya sedang tidur.
Ibunya tersenyum sambil mendekat.
“Nak… bangun dulu, Sayang…”
Kulit Raka sudah dingin.
Ayahnya langsung memeluk tubuh kecil itu.
“Raka… jangan bercanda…”
Tak ada denyut.
Tak ada napas.
Yang tersisa hanyalah selembar surat di samping bantal.
Ketika mereka selesai membacanya, dunia seakan runtuh.
Ayah yang selama ini tidak pernah menangis, berlutut di lantai sambil memeluk tubuh anaknya.
“Maafkan Ayah… Maafkan Ayah…”
Ibunya memukul-mukul dadanya sendiri.
“Kenapa Ibu tidak pulang… Kenapa Ibu lebih memilih pekerjaan…”
Tangisan mereka memenuhi rumah yang selama ini terlalu sepi untuk seorang anak.
Namun tangisan itu datang terlambat.
Tidak ada lagi suara kaki kecil yang berlari menyambut mereka.
Tidak ada lagi pelukan hangat.
Tidak ada lagi panggilan, “Ayah…” atau “Ibu…”
Yang tersisa hanyalah kamar yang penuh mainan, buku sekolah yang belum selesai dibaca, dan surat kecil yang kini mulai basah oleh air mata.
Sejak hari itu, setiap kali pulang kerja, ayah dan ibu selalu berhenti di depan kamar Raka.
Mereka masih membuka pintunya perlahan.
Masih berharap mendengar suara kecil yang berkata, “Ayah pulang…”
Tetapi yang menjawab hanyalah kesunyian.
Dan mereka akhirnya mengerti sebuah kenyataan yang tidak bisa diulang:
Uang dapat dicari kembali. Jabatan bisa diraih lagi. Kesempatan bekerja akan selalu datang. Tetapi waktu bersama anak adalah titipan yang tak pernah bisa dibeli kembali ketika telah hilang.
Karena pada akhirnya, bukan rumah yang megah, bukan mainan yang mahal, dan bukan tabungan yang paling diingat seorang anak.
Melainkan siapa yang hadir ketika ia paling membutuhkan kasih sayang.
Dan penyesalan yang datang setelah kehilangan… selalu datang terlambat.






