Oleh : Dede Farhan Aulawi
Revolusinews.com – Istilah Panem et Circenses yang berarti “roti dan hiburan” berasal dari penyair Romawi Juvenal. Ungkapan ini menggambarkan strategi politik yang digunakan oleh para penguasa untuk menjaga stabilitas kekuasaan dengan memenuhi kebutuhan dasar rakyat sekaligus menyediakan hiburan besar-besaran. Ketika perut kenyang dan perhatian masyarakat tersita oleh tontonan, kritik terhadap pemerintahan cenderung mereda. Meskipun lahir lebih dari dua ribu tahun lalu, konsep ini masih sering dijadikan lensa untuk memahami dinamika politik modern.
Dalam Kekaisaran Romawi, pemerintah mendistribusikan gandum kepada warga kota dan menyelenggarakan pertunjukan megah seperti balap kereta, gladiator, serta festival publik. Kebijakan tersebut memang membantu memenuhi kebutuhan masyarakat miskin, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen legitimasi politik. Hiburan menjadi alat untuk membangun citra penguasa sekaligus mengalihkan perhatian dari persoalan seperti korupsi, ketimpangan sosial, atau konflik politik.
Secara filosofis, Panem et Circenses menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui kekuatan militer atau hukum, tetapi juga melalui pengelolaan persepsi publik. Rakyat yang merasa cukup secara ekonomi dan terus disuguhi hiburan dapat menjadi kurang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Namun, jika kebutuhan ekonomi memburuk atau hiburan tidak lagi mampu menutupi persoalan mendasar, legitimasi penguasa dapat dengan cepat melemah.
Dalam konteks demokrasi modern, bentuk “roti dan hiburan” tidak selalu berupa pembagian pangan dan pertunjukan fisik. Program bantuan sosial, subsidi, acara olahraga berskala besar, konser, hingga derasnya arus konten di media digital dapat berperan sebagai sarana membangun kedekatan dengan publik. Kebijakan-kebijakan tersebut tidak selalu bersifat manipulatif; banyak yang memang memiliki manfaat nyata. Yang menjadi persoalan adalah ketika kebijakan populis atau hiburan dipakai untuk mengalihkan perhatian dari masalah struktural yang belum terselesaikan.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara kebijakan kesejahteraan yang benar-benar bertujuan meningkatkan kualitas hidup dengan strategi komunikasi politik yang sekadar mengejar popularitas. Bantuan kepada rakyat merupakan kewajiban negara, sedangkan hiburan adalah bagian dari kehidupan sosial. Keduanya menjadi bermasalah apabila digunakan untuk mengurangi ruang kritik, menutupi lemahnya tata kelola, atau menghambat akuntabilitas.
Pelajaran utama dari Panem et Circenses adalah bahwa kesejahteraan dan hiburan seharusnya menjadi pelengkap pembangunan, bukan pengganti pemerintahan yang transparan, adil, dan bertanggung jawab. Bangsa yang maju tidak hanya membutuhkan rakyat yang kenyang dan terhibur, tetapi juga warga yang kritis, berpendidikan, serta mampu mengawasi jalannya kekuasaan agar tetap berpihak pada kepentingan umum.






