TANGERANG, Revolusinews.com – Dalam rangka membangun ekowisata perkotaan berbasis komunitas untuk Jakarta Selatan yang hijau, edukatif dan berkelanjutan, Pokdarwis Jakarta Selatan (Jaksel) melakukan kunjungan ke Kampung Ekowisata Keranggan Tangsel pada Kamis (21/05/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh Dr. Anang Hasbulah dan Agung Sudira, Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Selatan yang diikuti sekitar 100 peserta dari Pokdarwis Waduk Brigif, Setu Babakan, Pasar Minggu dan Beksi.

Ketua Pokdarwis Ekowisata Keranggan Alwani M.Pd. mengatakan, pihaknya berusaha menjadi perintis dan terus berinovasi dengan memaksimalkan potensi budaya, lingkungan dan masyarat sehingga yang tadinya tidak ada menjadi ada yaitu Kampung Ekowisata Keranggan.
“Berbagai kegiatan dan atraksi dapat dilakukan antara lain camping ground, susur sungai Cisadane, panahan, jelajah kampung, outbound fun games, home industri UMKM, pembuatan souvenir, kaos dan tempat penelitian serta kegiatan bagi kampus,” ungkap Alwani.
Sementara itu paparan materi disampaikan oleh Abdul Basyith, S.IP., M.Pd. selaku Sekjen Pokdarwis Ekowisata Keranggan bertemakan peningkatan kapasitas pengelolaan destinasi pariwisata yang berkelanjutan.
Dalam paparannya Basyit menuturkan bahwa kampung wisata sebagai salah satu solusi meningkatkan perekonomian, keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan jangka panjang yang tentunya melibatkan peran semua pihak dan faktor pendukung.
“Dua faktor utama yang harus terus dipertahankan yaitu Sapta Pesona (aman, tertib, sejuk, bersih, indah, ramah dan kenangan), serta Penta Helik (pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas/masyarakat dan media/pers),” jelas Basyith.
Selanjutnya, kunjungan ke home industri pembuatan kripik, menyusuri sungai Cisadane dan berfoto ria di batu karang Cisadane yang merupakan dermaga 1 kegiatan susur sungai.
Acara ditutup dengan pemberian cindera mata diantaranya “Jam Blandongan” yang dibuat dari pelepah pisang, hasil karya dan kreasi Noe Ibnu, Tim Seniman Ekowisata Keranggan.
Souvenir ini bukan sekadar cinderamata, tetapi juga wujud kreativitas lokal yang lahir dari nilai budaya, seni, dan semangat masyarakat kota Tangsel.











