Surat Terbuka Untuk Presiden Sungai Ciujung Krisis Ekositem

oleh -11 Dilihat
img 20260623 wa0137

SERANG,Revolusinews.com – Repiana Salah satu warga Kabupaten Serang sekaligus aktivis pemerhati lingkungan dan kebijakan pemerintah, membuat petisi dan surat terbuka untuk Presiden tentang kondisi alam dan Sungai Ciujung, Senin (23/06/2026).

Yang Terhormat Bapak Presiden Prabowo Subianto, Dengan menyimak secara seksama jerit tangis masyarakat di Kabupaten Serang, akibat kedzoliman pengusaha yang membuang limbah ke sungai, Melalui surat ini, saya Repiana selaku warga yang sehari-hari beraktivitas di Serang, mengirimkan surat petisi secara terbuka. Surat terbuka ini bukan tidak ada risiko ketimbang surat tertutup, benteng yang ketat salah satu alasan surat terbuka ini di tempuh, karena terus terang saya tidak yakin sakan sampai ketangan Bapak untuk di ulas.

Bagi saya dan warga lainnya, ini bukan lagi waktu yang tepat untuk adu kuat dalam data. Ekosistem hingga nyawa masyarakat menjadi taruhannya. Peringatan pencemaran air sungai ciujung sudah disuarakan oleh berbagai pihak. Polusi Air yang terjadi di beberapa waktu terakhir menjadi bukti bahwa mungkinkah adanya ketidakseriusan dalam penanganan pencemaran ini. Kami mohon kebijaksanaan Bapak untuk segera melakukan segala upaya tuntutan yang nyata dan terarah agar permasalahan pencemaran air cepat selesai. Tidak perlu lagi menyalahkan siapapun. Manfaatkan waktu untuk pulihkan kualitas air, secepatnya.

Bapak Presiden, sungai yang dulu indah kini berubah menjadi hitam pekat, jutaan kubik air bercampur sisa limbah industri mengalir bebas dari hulu ke hilir setiap saat. Membawa Duka, Ketakutan dan Kecemasan mendalam bagi siapa saja yang melihatnya. Nestapa aroma bau busuk, sisa bangkai ekosistem air menjadi saksi bisu betapa dzolimnya kebiadaban tangan-tangan oligarki menghancurkan alam kami.

Lagi-lagi fenomena ini terulang kembali, “SUNGAI CIUJUNG”, yang selama ini menjadi tulang punggung ribuan warga di bagian utara Kabupaten Serang (Pantura), kini arusnya berubah menjadi momok menakutkan. Ekosistem air hancur, tambak-tambak gagal panen dan lahan pertanian kehilangan kesuburannya. Banyak pertanyaan besar, tetapi tidak pernah ada jawaban. Padahal persoalan harus disikapi dengan lebih jelas dan tegas. Tidak boleh mendua, apalagi tiga, jangan abu-abu. Ini persoalan hitam-putih menjalankan konstitusi bernegara demi kelangsungan hidup anak cucu kita.

Bapak Presiden, Lantas kenapa semua ini bisa terjadi ? Lalu siapakah yang harus bertanggung-jawab ? Kemanakah para pejabat-pejabat di negeri inI ? sampai saat ini pertanyaan besar, belum juga menemukan jawabannya. Bukan tidak ada yang bertanya, namun sepertinya negeri ini sudah kehilangan jati dirinya. Pejabat anda memilih diam bagaikan si bisu, pura-pura tidak melihat seperti si buta, lupa akan janji sumpah jabatannya yang di ucapkan atas nama sang maha pencipta.

Sudah cukup, kegaduhan di atasi dengan program sosial bermodus kesejahteraan rakyat. Sedangkan Mereka para pejabat anda, apakah bekerja sesuai amanat rakyat ? Jawabannya iyah mereka bekerja dan peduli, namun bukan atas nama rakyat melainkan hanya mempertahan sebuah jabatan. Bagi pejabat yang tidak punya kuasa, menindak tetapi takut, takut akibat besarnya cengkraman oligarki yang di sokong kekuatan elit penguasa di negeri ini. Mundur perlahan-lahan jalan yang benar bagi mereka. Sampai akhirnya permasalahan akan hilang dengan sendirinya tanpa aksi nyata, sampai kapan paradoks ini hanya berkahir di atas panggung sandiwara.

Bapak Presiden, bangkit bangkitlah negeriku, besar harapan kami di bawah kepemimpinanmu menjadikan Indonesia sebagai mercusuar yang menerangi jalan keadilan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat, kembalikan kesucian Sungai Ciujung, jangan rampas kesuburan alam kami demi kepentingan oligarki, hentikan ekpolitasi air karena anak cucu menginginkannya.

Reporter: Wahyu Ceko

No More Posts Available.

No more pages to load.